Tanya Cepat!

Tanya_Cepat

Simak pertanyaan dan jawaban seputar keuangan dibawah ini!

 Pertanyaan 1: Bagaimana cara membagi omset dengan baik? 

Karena saat ini omset selalu habis untuk kebutuhan rumah tangga dan lain-lain. Kalau menambah lembur suami tidak dimungkinkan.

Setiap bulan saya dapat omset dari jualan emas dan tiket, namun emas menurun karena harga emas dunia turun. Selain itu ditahun-tahun sebelumnya, dapat panen dari sawah pemberian ibu saya dimana bisa 3x panen dalam setahun, dan ada uang kontrakan dari rumah pemberian ibu juga. Cuma panen sedang turun karena import beras melonjak, sedang rumah kontrakan belum dikontrakin lagi (belum ada modal untuk biaya perawatan dan waktu).

Tolong bisa dikasih gambaran agar omset saya tidak habis bagaimana cara membaginya? Atau harus nambah jam terbang jual beli emas seperti bulan lalu sampai Solo dan Semarang?

Terima kasih

Diana Alsha

2018/09/04

Jawaban
Intisari perencanaan keuangan adalah mengelola pemasukan dan mengontrol pengeluaran. Apapun teknik yang digunakan, tujuan akhirnya tetap kondisi keuangan yang sehat.

Untuk kasus yang ibu alami, bisa dikatakan problemnya adalah fluktuasi pemasukan. Artinya pemasukan bulan ini, bisa SANGAT BERBEDA dengan pemasukan bulan lalu ataupun bulan depan. Oleh karena itu, Anda menanyakan teknik pembuatan alokasi omset usaha secara benar.

Kenapa bukan dari sisi pengeluaran?

Karena Anda sudah bisa melakukan estimasi pengeluaran, sehingga fungsi controlling sebenarnya sudah berjalan dengan baik.

Alokasi Omset Usaha yang Sehat

Untuk enterpreneur dengan beragam usaha seperti Anda, memiliki rekening lebih dari satu merupakan sebuah keharusan untuk menghindari pencatatan yang buruk. Bahkan apabila Anda hanya memiliki satu bisnis, maka sewajarnya punya minimum 2 rekening. Satu rekening khusus bisnis, sementara satu lagi untuk keperluan sehari-hari.

Para pengusaha kadang mencampuradukkan keuangan pribadi dan bisnis, alasannya karena meremehkan nominalnya, atau merasa tidak perlu. Padahal akan ada suatu titik ketika sang enterpreneur berpikir,” Duh, duit saya kok tinggal segini”

Uang yang seharusnya dihitung omset usaha agar bisa diputar lagi, ternyata dianggap uang pribadi. Jadinya para pengusaha tadi merasa punya uang banyak, akibatnya boros.

Itulah pentingnya pembagian rekening.

Pembagian rekening perlu diikuti pula dengan pembagian hasil usaha, dan sudah seharusnya Anda menggaji diri sendiri. Tentu saja besaran gaji yang diterima tergantung skala usaha. Sebagai contoh dari usaha emas tiap bulan untung 4-7 juta, dari tiket 2- 5 juta, maka totalnya 6-12 juta kan?

Dari nilai itu, Anda bisa menggaji diri 5 juta per bulan, sisanya masukkan ke rekening tabungan, investasi atau dana darurat. Sementara apabila terjadi kekurangan bisa mengambil dari sisa dana sebelumnya.

Pertanyaannya, apakah gaji yang Anda tetapkan sudah mencukupi kebutuhan bulanan?

Anda tidak bisa serta merta menjawab ya atau tidak, karena harus memastikan rata-rata pengeluaran setiap bulan agar asumsinya tidak meleset dan mengganggu perencanaan keuangan selanjutnya.

Persiapan Investasi

Ketika alokasi omset sudah berjalan dengan baik dan memberi hasil optimal, saya sangat menyarankan untuk mempersiapkan investasi dengan risiko rendah. Cari model investasi yang paling Anda pahami.

Kenapa saya sarankan risiko rendah?

Karena bila bisnis yang dilakukan memiliki profil risiko tinggi, sementara investasinya berisiko tinggi juga, maka akan berbahaya pula untuk kondisi keuangan Anda di masa depan.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 2: Bagaimana Cara Bayar Utang Yang Selalu Menghabiskan Gaji Setiap Bulan? 

Saya bingung setiap gajian selalu saja habis hanya untuk bayar hutang saja. Bagaimana saya bisa kumpul dengan teman atau keluarga saya? Tolong Solusinya ya..

Terima kasih

Yuni

2018/09/08

Jawaban
Halo kawan yang disana,

Saya asumsikan gaji Anda sama dengan utang, tapi tidak mungkin seperti itu kan? Kalau begitu, asumsi saya ubah menjadi gaji sama dengan utang ditambah kebutuhan dasar. Nampaknya asumsi terakhir lebih tepat.

Untuk mengetahui kesehatan utang, sebenarnya Anda bisa menggunakan rasio sederhana bernama DAR (Debt to Asset Ratio) dan DSR (Debt Service Ratio).

DAR berguna kalau mau melihat kondisi total utang dibandingkan aset yang dimiliki. Jadi andaikata duit abis, ternyata Anda masih bisa membayarnya karena punya aset. Rumusnya total utang dibagi total aset. Ingat, kalau hasilnya di atas 75%, harus mulai berhati-hati!

Sementara DSR itu untuk menilai kemampuan bulanan Anda. Singkatnya, berguna sebagai tolok ukur apakah Anda masih bisa hidup “nyaman” ketika bayar utang per bulan. Formula DSR adalah komitmen utang per bulan dibagi penghasilan. Nah penghasilannya ini sudah dikurangi dari belanja rutin seperti makan ya! Sama seperti DAR, lampu kuning kalau di atas 75%.

Kembali ke kondisi keuangan Anda.

Berarti kondisi yang Anda alami saat ini adalah:

  1. Tidak memiliki tabungan sama sekali
  2. Mengalami gejala “gali lubang, tutup lubang”. Artinya membuat utang baru untuk menutup utang lama.

Apakah situasi demikian berbahaya? Jelas BERBAHAYA sekali!

Seperti bola salju yang ketika menggelinding dia membesar karena menyeret salju di sekitarnya, utang juga demikian. Apabila tidak dikendalikan dengan segera, maka dampaknya akan sangat buruk bahkan mengganggu keluarga.

Dengan fakta saat ini, maka yang bisa dilakukan untuk memiliki keuangan yang sehat adalah meningkatkan pendapatan atau menekan pengeluaran. Untuk meningkatkan pendapatan ada banyak cara, dan setiap orang memiliki jalurnya masing-masing. Maka kita akan fokus untuk menekan pengeluarannya.

Menghilangkan gengsi sesaat itu penting.

 

Bagaimana cara bayar utang dengan menekan pengeluaran?

Dalam konteks belanja individu, maka di dalam otak kita selalu terekam pola pikir “Barang ini penting, barang itu penting.”

Akibatnya apa? Semua barang baik yang diperlukan atau tidak diperlukan menjadi penting. Faktanya dari semua barang belanjaan dalam sebulan, hanya sebagian yang benar-benar kita perlukan. Sisanya bukan kebutuhan, tapi kesenangan, atau bahkan karena terjebak iming-iming marketing yang semampai.

Karena kondisi Anda saat ini sedang terjebak, maka kesenangan perlu dikorbankan untuk bayar utang yang tidak kunjung usai.

Adapula yang terpaksa mentraktir teman atau memberi kado ke keponakan, demi terlihat baik. Untuk saat ini, berhenti dulu melakukan itu. Kami tidak mengajarkan untuk menjadi pelit, tapi agar keuangan Anda yang lebih sehat.

Setelah kesenangan berhasil ditekan, Anda harus mulai mengklasifikasikan utangnya. Coba buat tabel yang di dalamnya berisi nominal utang berdasarkan besar bunga, dan waktu jatuh temponya.

Kita akan membuat prioritas pembayaran utang.

Tabel paling atas berisi utang yang paling cepat akan ditagih. Jika ada dua utang dengan waktu jatuh tempo bersamaan, maka dahulukan yang bunga nya tinggi.

Apabila prioritas paling atas berhasil dibayar, maka berlanjut ke bawahnya. Begitu seterusnya, tapi usahakan tidak membayar utang dengan membuat utang baru!

Jika karena Anda memang belum ada penghasilan tambahan dan terpaksa berutang untuk menutup utang lama (orang bilang refinancing), maka cari dengan kriteria tanpa bunga dan waktu pinjaman yang lebih lega. Bisa meminjam ke saudara atau rekannya.

Tapi ceritakan kondisi yang sesungguhnya, sehingga mereka paham bahwa utangnya memang tidak bersifat produktif, karena sebagai penutup lubang utang lama. Sekali lagi, cara ini sangat TIDAK DISARANKAN kecuali tidak punya pilihan lain.

Karena seperti Anda ketahui, perkara utang bisa membuat kita sulit bersosialisai dengan teman atau keluarga.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 3: Bagaimana mendapat modal untuk buka usaha? 

Saya ingin sekali memiliki Modal yang baik untuk membuka usaha pertama saya, kira-kira bagaimana cara untuk mendapatkan modal usaha yang cepat dan bagus ya?

Terima kasih

Zainul Febri Arifiansyah

2018/09/05

Jawaban
Halo kawan,

Berbicara mengenai modal memiliki ruang lingkup teramat luas, oleh karena itu saya asumsikan Anda seorang pemilik ide dan sedang mencari suntikan dana. Bisa disamakan dengan startup, betul demikian bukan?

Untuk mencari dana, banyak alternatif sebagai pilihan, apalagi jika ide yang Anda miliki ternyata unik, berkarakter, dan yang lebih penting, berpotensi menghasilkan banyak untung bagi investor.

5 Alternatif memperoleh modal buka usaha

  1. Pinjaman

Orang mau mengajukan pinjaman untuk buka usaha, tentu saja karena dana yang dimiliki terbatas. Pinjaman bisa dilakukan ke Bank, fintech lending, atau ke kerabat yang dikenal.

Karena usaha tidak bisa dibangun dengan hitungan hari, maka pastikan melakukan pinjaman dengan jangka waktu yang cukup lama. Misal hitungan Anda, balik modal akan terjadi setelah 6 bulan. Maka usahakan cari pinjaman yang memberi tenggat waktu pengembalian pinjaman 12 bulan, untuk berjaga-jaga apabila ada kondisi yang diluar perhitungan.

  1. Kerjasama

Salah satu pendanaan paling umum terjadi di bisnis yang baru dimulai, Anda sebagai penggagas bertemu partner yang memiliki value tambahan untuk mendesain produk, memasarkan, dan bahkan mensupport sisi permodalan. Dalam kondisi ini, harus ada kesepakatan bagi hasil di awal, jangan ketika bisnis telah berjalan.

Akan sangat fair jika Anda hanya memiliki ide awal mendapat porsi bagi hasil lebih kecil, sementara partner memiliki pasar untuk jualan ditambah modal usaha mendapat keuntungan lebih besar. Kenapa bisa demikian?

Karena ide dihitung satu, kemudian pasar dihitung satu, dan pasar dihitung satu. Dengan demikian Anda hanya memiliki satu poin, sementara partner memiliki dua poin. Jelas?

  1. Ikut Kompetisi

Sekarang banyak perusahaan besar menggelar ajang kompetisi bagi perusahaan startup potensial, dan pemenangnya akan mendapat modal untuk memperbesar kapasitasnya. Anda bisa mencoba ikut kompetisi, namun harus sesuai dengan aturan yang telah diterapkan masing-masing perusahaan karena tidak semua kompetisi sesuai dengan bisnis startup.

  1. Crowdfunding

Kenapa tidak berpikir untuk mengundang masyarakat umum berpartisipasi dalam bisnis Anda?

Perusahaan besar melakukan IPO (Initial Public Offering) dengan mengizinkan masyarakat membeli saham mereka. Sementara yang tidak bisa IPO, di luar negeri banyak pula yang melakukan ICO (Initial Coin Offering).

Untuk usaha Anda, bisa memilih crowdfunding melalui beberapa fintech yang telah memfasilitasi model usaha seperti ini. Tapi Anda harus bisa memproyeksikan bagi hasil yang bisa diberikan untuk menggaet para investor crowdfunding.

  1. Inkubator

Apabila Anda membutuhkan bantuan paket lengkap, mulai dari sisi permodalan sampai ke penjualan, maka inkubator menjadi pilihan yang tepat. Seperti namanya, program ini membantu usaha dari nol.

Dibandingkan bersifat investor, inkubator lebih cocok dinamakan mitra karena mengiringi startup sejak awal. Ketika lahir, memungkinkan untuk menyuntik modal usaha, kemudian akan diarahkan untuk mendapat mentor bisnis yang pas. Setelah itu, secara bersamaan merencanakan strategi pemasaran perusahaan hingga akhirnya berkembang sesuai tujuan awal.

Tidak hanya pihak swasta, pemerintah juga berusaha menggalakkan inkubator bisnis. Bagaimana, menarik bukan pilihannya?

Kesimpulan

Kelima opsi memperoleh modal tersebut tentu saja harus diimbangi dengan konsep dan eksekusi yang menarik. Tidak ada seorangpun yang ingin kehilangan uang ketika berinvestasi di usaha Anda, itu yang perlu diingat. Sekali Anda mengecewakan mereka, maka akan sulit memperoleh pendanaan di kesempatan berikutnya.

Maka dari itu, persiapkan visi dan misi usaha Anda dengan baik. Coba berpikir dari sudut pandang investor, apabila Anda menjadi mereka, apakah berkenan untuk investasi ke usaha yang Anda miliki saat ini. Big question!

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 4: Bagaimana bayar hutang tanpa hutang tambahan? 

Saya memiliki hutang di beberapa tempat, kira-kira bagaimana saya bisa melunasi hutang saya tanpa saya harus menutupinya dengan berhutang?

Terima Kasih

Bibi Nurwati

2018/09/06

Jawaban

Urusan bayar utang selalu menarik perhatian, dan memang membayar utang dengan menambah pinjaman justru memperumit masalah. Kalau orang bilang, seperti masuk ke dalam “lingkaran setan” yang tidak tahu kapan terputusnya.

Dalam kondisi keuangan yang bermasalah, maka penyelesaiannya ada dua yaitu meningkatkan sumber pemasukan dan menekan pengeluaran. Sementara pembayaran utang yang rumit, berhubungan dengan prioritas dan jangka waktu.

Sekarang Anda perlu menilai kualitas diri Anda sendiri, apakah mungkin untuk menambah pemasukan dengan meningkatkan gaji yang diperoleh setiap bulan atau memperbanyak income stream?

Bila meminta kenaikan gaji kepada atasan tidak dimungkinkan, maka memperbanyak jenis usaha melalui bisnis kecil bisa menjadi solusi penambahan duit masuk. Kita tidak bicara bisnis dengan skema modal tinggi, jutaan atau puluhan juta. Banyak usaha yang mengedepankan inovasi dan ide, sementara modal uang bisa diperoleh dari partner.

Misalnya Anda memiliki ide dan passion berganti-ganti model hijab, kenapa tidak mencoba menawarkan ide bisnis hijab dengan menggaet partner yang memiliki modal. Anda bisa membantu dari sisi desain, penjualan, sementara partner mensupport uangnya. Dengan demikian keuangan Anda akan lebih sehat, yang kemudian bisa untuk membayar utang tadi.

Kembali ke perkara cara bayar utang tanpa nambah pinjaman. Ini yang perlu Anda lakukan:

Pertama adalah dengan melakukan identifikasi utang. Ambil kertas atau buka spreadsheet excel, catat semua utang Anda, kepada siapa, jangka waktu, serta jumlahnya. Kemudian tentukan pihak pemberi utang yang memiliki kemungkinan untuk dinegosiasi agar bisa diperlama jangka waktu pembayarannya.

Saya tidak mengajarkan kepada Anda untuk sengaja menahan membayar utang kepada orang lain. Namun, apabila keuangannya memang sangat terbatas, coba sampaikan kemungkinan penundaan pembayaran dan disertai alasan serta kondisi saat ini dengan jujur. Tapi ingat, jangan pernah memaksa!

Apabila keluarga, teman atau siapapun yang uangnya Anda pinjam tidak berkenan memperpanjang, maka berhentilah mencoba untuk menegosiasikannya. Bagaimanapun mereka berhak menolak.

Kedua, perhatikan prioritas bunga. Bunga utang adalah penurun nilai kekayaan. Makanya saya selalu sampaikan kepada rekan rekan, bahwa jika ada dua utang di saat yang bersamaan dengan tingkat bunga yang berbeda, usahakan untuk menyelesaikan utang yang memiliki bunga lebih tinggi.

Tapi lain cerita jika jangka waktunya pendek dan jatuh tempo bersamaan. Sangat tidak dianjurkan untuk memilih salah satu dan mengorbankan tidak membayarkan utang pihak lain. Istilah kata, lebih baik membayar minimum payment dibandingkan melunasi satu dan tidak membayar ke yang lain.

Ketika Anda memutuskan utang ke banyak pihak, terlebih bukan utang produktif, seharusnya sudah menyadari konsekuensi yang mungkin terjadi. Konsekuensi tersebut tidak akan hanya mengusik Anda, namun juga berdampak kepada kerabat bahkan lingkungan pekerjaan.

Satu utang sejatinya sudah merupakan “alarm”, artinya Anda memiliki kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi dompet saat ini. Ketika alarm pertama menyala, logikanya sudah mulai mencari sumber masalah dan jalan keluarnya. Bukan dengan menambah nilai pinjaman, apalagi ke beberapa pihak yang justru menambah alarm-alarm lainnya.

Demikian, semoga membantu Anda melunasi utang dengan segera. Setelah urusan perhutangan selesai, mulai lah mencatat arus uang dengan detil. Anda akan terkejut karena menyadari bahwa seharusnya Anda bisa menyimpan lebih banyak uang dibandingkan saat ini.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 5: Apakah Inklusi dan Literasi Keuangan? 

Bulan Oktober ini kan sedang gencar di promosikan mengenai bulan literasi keuangan. Nah, sebenarnya apakah Inklusi dan literasi keuangan itu sendiri dan bagaimana dampaknya bagi perekonomian Indonesia?

Terima Kasih

Rizqy Firmasyah

2018/10/10

Jawaban

Almarhum kakek saya, sebelum meninggal merupakan salah satu tokoh di kampung. Sebelum beliau meninggal dunia, setiap bulan menerima jatah pensiun. Menariknya, sampai saat ini saya meyakini bahwa kakek tidak pernah punya rekening Bank.

Sementara saya, mewakili kaum milenial yang ada dikota, sudah menggenggam buku tabungan sejak kelas 4 SD.

Inklusi keuangan mengindikasikan pelayanan di bidang jasa keuangan ke seluruh layer masyarakat. Tentu saja tidak hanya sarana penyimpanan uang, namun juga transfer uang, pinjaman, asuransi, bahkan sampai di level investasi.

Bagaimana dengan literasi keuangan?

Literasi keuangan bisa dikatakan penetrasi edukasi keuangan, dengan harapan meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia ke zona well literate. Setelah itu tentu saja, apabila program literasi berjalan dengan baik akan makin banyak orang yang memanfaatkan produk keuangan.

Saat ini literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di taraf yang mengkhawatirkan. Dari survei yang dilakukan pada tahun 2016, ternyata hanya 29,7 persen warga yang mampu memahami produk keuangan. Padahal yang menggunakan produk keuangan lebih banyak, berada di kisaran 67,8 persen.

Artinya banyak orang menggunakan produk keuangan, tanpa memahami fungsinya.

Manfaat Inklusi dan Literasi Keuangan bagi masyarakat Indonesia

Inklusi dan literasi keuangan sejatinya merupakan satu kesatuan, ketika pemahaman masyarakat di level mengerti dan yakin untuk menggunakan produk keuangan, maka tujuannya telah tercapai.

Apabila masyarakat memiliki kemampuan untuk berinvestasi, tapi kurang pemahaman, dikhawatirkan justru memperbanyak korban dari investasi yang tidak bertanggung jawab. Sudah banyak investasi bodong yang ditutup oleh pihak otoritas, namun diyakini masih banyak pula pihak tidak bertanggungjawab masih mengeruk dana masyarakat atas nama investasi. Selain itu perlu diketahui juga bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga memerlukan variasi penanganan.

Sebagai contoh masyarakat di desa sedang membutuhkan kredit jangka menengah sebagai modal bertani di musim depan. Dibandingkan meminjam uang dari orang tak resmi berbunga tinggi, tentu akan lebih menolong bila menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Budidaya Pertanian.

Dari sudut pandang ekonomi regional, literasi ditambah inklusi keuangan yang tepat sasaran akan mendorong kemajuan kawasan tersebut. Makanya jangan heran jika pemerintah dan industri keuangan serius menggarap program ini.

Berbagai komunitas disasar sebagai ruang transfer knowledge, melakukan berbagai kuliah umum ke universitas, menggalakkan fasilitas mobil literasi keuangan keliling atau yang dikenal sebagai SiMolek, dan berbagai program edukasi lain sebagai perwujudan dari literasi keuangan.

Sementara inklusi keuangan dilakukan dengan program Laku Pandai dan pengembangan produk mikro baik dalam bentuk investasi seperti saham, reksadana, emas, maupun asuransi mikro. Program tersebut berguna untuk memperluas akses keuangan masyarakat.

Coba bayangkan apabila seluruh masyarakat Indonesia sudah melek keuangan, dan didukung dengan produk-produk yang berkualitas.  Investasi bodong sudah pasti akan hilang sempurna, ditambah perekonomian tidak hanya bergerak, tapi berlari bahkan melebihi pertumbuhan saat ini yang berada di kisaran 5 persen. Penyerapan tenaga kerja makin optimal, sehingga tingkat pengangguran juga tertekan yang berujung pada penurunan potensi kekerasan.

Dalam skala keluarga, miniatur literasi keuangan bisa diterapkan kepada anak dengan mulai mengajarkan konsep menabung kepada mereka. Tidak perlu dengan cara yang bikin pusing, bahkan permainan bisa jadi alat paling asik untuk membuka pengetahuan mereka. Atau bisa juga dengan melibatkan anak langsung ketika belanja di mall, sehingga si kecil juga tahu apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 6: Bagaimana Caranya Menjadi Masyarakat yang Melek Finansial ? 

Saya ingin lebih mengerti mengenai finansial, biar ga gampang dibodohi dan semakin pintar nih dalam mengerti pergerakan finansial itu sendiri di negara kita. Apa saja ya langkah-langkahnya?

Terima Kasih

Adila Natasya

2018/10/18

Jawaban

Statistik mencatat masih banyak warga Indonesia belum melek keuangan, akibatnya memang korban penipuan berkedok investasi masih terus bertambah seiring waktu. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, yang paham dunia keuangan level basic masih dibawah 30%, sehingga ceruk pasar masyarakat awam terus jadi sasaran penipu.

Untuk masuk ke dalam level masyarakat yang memperoleh literasi keuangan secara cukup, bisa dimulai dari diri kita sendiri sebelum menularkan ke lingkungan sekitar. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjawab permasalahan literasi keuangan, antara lain:

 

  1. Serap Informasi melalui Buku

Suka baca novel dan komik? Well, kita senasib!

Tapi mulai deh memperbanyak baca ulasan dan artikel yang berhubungan dengan dunia keuangan, majalah, surat kabar online, atau bahkan buku. Biasakan membaca saat pagi hari untuk memprediksi kejadian ekonomi di siang dan sore hari.

Rubrik ekonomi maupun keuangan yang ada di media akan membantu kita lebih merasakan kondisi sekitar. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan substansial seperti:

“Kenapa harga cabe naik di pasar tradisional.”

atau

Mengetahui investasi-investasi yang telah dilarang OJK, sehingga Anda tidak menjadi korban selanjutnya.

  1. Memanfaatkan aplikasi keuangan

Kita sudah hidup di era beli makan murah sampai belanja jutaan dengan menggunakan smartphone, terlebih bila hidup di kota besar. Lantas kenapa tidak menggunakan aplikasi yang ada di genggaman Anda untuk mengatur keuangan?

Mulai dari cara mengelola duit, mengajukan kredit, bayar belanja, bahkan sampai fasilitas investasi, sekarang tinggal colek smartphone. Bisa dibilang, merugilah orang yang hidup di zaman millenial tapi bermindset zaman batu.

  1. Konsultasi dengan para expert keuangan

Selamat Anda telah melakukannya dengan bertanya di forum ini!

Perusahaan besar maupun institusi kenegaraan juga membutuhkan ahli di bidang tertentu untuk membantu program-program mereka. Tentu saja dengan skala lebih kecil, seseorang yang mencari masukkan dari ahli berpotensi mendapatkan hasil lebih optimal.

  1. Mulai Investasi

Tidak ada yang lebih baik daripada praktik langsung di lapangan, dan untuk urusan ini, mulai berinvestasi setelah mendapat wawasan dari buku dan ahlinya seperti yang telah dibahas di poin sebelumnya.

Berinvestasi sesuai dengan bidang yang Anda suka dan pahami, bukan karena ajakan teman maupun merasa keren-kerenan. Selain itu juga tidak perlu memulai dengan jumlah besar, sesuaikan saja dengan kemampuan saat ini. Pilihannya beragam dari sektor riil seperti emas, properti, maupun bisnis yang telah berjalan, kemudian ada sektor pasar modal seperti saham dan reksadana. Kalau memiliki kecintaan lebih ke barang antik atau seni, ternyata bisa menjadi salah satu alternatif juga dengan mengkoleksinya.

  1. Upgrade dan Evaluasi

Membicarakan evaluasi selalu berhubungan dengan output, tapi jangan salah dengan menyamaratakan dengan uang.

Saat kita sudah berinvestasi dan mempelajari segala yang berhubungan dengan literasi keuangan, namun menjadi stres ketika rugi, berarti mindset yang tertanam belum benar. Semua memiliki risiko, ketika seluruh dunia merugi dan Anda ikut rugi, cobalah untuk memaafkan kesalahan dan meng- upgrade kemampuan.

Poin ini penting karena ketika kita tidak bisa lepas dari mindset “harus selalu untung”, maka perencanaan investasi yang telah disusun bisa kacau balau. Investor sekelas Warren Buffet juga pernah mengalami kerugian, tetapi dia tidak pernah berhenti meningkatkan skill dan pengetahuannya hingga membawanya menjadi salah seorang terkaya di dunia.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 7: Apakah Fintech Itu ? 

Kan lagi maraknya produk-produk financial technology atau yang biasa disebut Fintech di negara kita. Sebenernya apa ya makna dan arti dari Fintech itu sendiri?

Terima Kasih

Gerry Karamoy

24/10/2018

Jawaban

Semakin hari, semakin banyak solusi teknologi diciptakan manusia untuk menjawab permasalahan di atas bumi. Teknologi mengarah ke jalan memudahkan dan memurahkan biaya yang harus ditebus manusia.

Bagi yang berat mengeluarkan uang untuk beli kendaraan, sharing economy memungkinkan orang nebeng kendaraan dengan membayar sejumlah ongkos. Sementara ada yang bingung memanfaatkan kamar kosong di rumahnya, maka dengan bantuan AirBNB, kamar tersebut bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Begitu pula dalam dunia keuangan.

Teknologi telah sampai di fase menjawab kebutuhan pinjaman dengan tempo cepat, pilihan investasi, aplikasi pembayaran, dan semuanya hanya dilakukan dengan segenggam smartphone.

Financial Technology (Fintech) adalah solusi teknologi dari permasalahan keuangan masyarakat. Salah seorang kawan yang telah sukses mendirikan fintech bercerita kepada saya bahwa kunci sukses fintech terletak dari solusi permasalahan yang ditawarkan. Era orang membuat catatan pengeluaran di excel sudah dianggap sebagai masa lalu karena mereka merasa kecapekan dengan sistem manual. Orang juga mulai malas pinjam ke Bank yang prosedurnya lama sehingga mulai pindah ke fintech.

Solusi adalah kunci survival.

Meski dari sisi nominal jumlah sirkulasi uang dalam industri fintech belum mengalahkan Bank, namun pertumbuhannya sangat luar biasa cepat. Dari tahun ke tahun, selalu saja ada member baru yang terdaftar menjadi konsumen fintech. Selain itu, fintech yang berdiri juga semakin beragam seiring berkembangnya permintaan masyarakat untuk dilayani.

Jika kita membicarakan konteks keuangan, maka tidak bisa melepaskan peranan fintech dalam perkembangan inklusi dan literasi keuangan seperti yang Anda tanyakan.

Fintech sebagai entitas bisnis secara sadar harus memperoleh profit dari manfaat yang disediakan kepada user. Namun demikian, perkara ini tidak mudah karena harus mendorong masyarakat paham lebih dulu dan merasa percaya diri untuk mulai menggunakan fasilitas yang ditawarkan para fintech. Oleh sebab itu, menjadi wajar apabila fintech di Indonesia melakukan sosialisasi masif ke seluruh wilayah Indonesia karena selain untuk mengenalkan produk mereka, juga membangun awareness masyarakat terhadap ekosistem industri ini.

Pemerintah maupun otoritas berwenang tidak akan sanggup jika harus berperan sendiri dalam mengedukasi masyarakat. Jangkauan yang luas ditambah perkembangan variasi fintech menjadi alasan utama untuk memperkuat relasi antara pelaku industri fintech dengan regulator. Belum lagi keluhan masyarakat juga meningkat seiring pertumbuhan industri.

Jangankan menyasar peningkatan pemahaman masyarakat di wilayah tepi, baik timur ataupun barat, bahkan di ibukota sendiri masih banyak yang belum mengerti dengan baik, meskipun sudah tercatat sebagai user atau konsumen.

Perlu diketahui juga bahwa dengan kerjasama yang ada saat ini, pekerjaan rumah untuk membuka mata masyarakat belum tuntas 100%. Masih ada lebih dari 30% masyarakat Indonesia yang telah menggunakan produk namun belum memahami dengan betul konsekuensinya.

Akibatnya ketika ada konsumen yang mengalami gagal bayar dalam hal pinjaman atau kerugian saat berinvestasi, orang menjadi menyalahkan teknologi. Dalam jangka panjang, tentu saja kondisi seperti ini tidak akan bagus untuk perekonomian Indonesia.

Oleh sebab itu, kolaborasi antara otoritas dan industri untuk membuka pemahaman masyarakat di bidang literasi keuangan adalah sebuah keniscayaan.

Gencarnya sosialisasi yang dilakukan fintech juga bisa menjadi indikator bagi masyarakat untuk menjatuhkan pilihan dalam menentukan layanan yang cocok bagi mereka. Bisa dikatakan, fintech yang serius tentu akan melakukan sosialisasi dengan baik. Niatnya agar masyarakat puas dengan layanan yang diberikan. Berbeda dengan fintech yang terkesan ogah-ogahan atau hanya untuk memenuhi peraturan yang ada.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

 Pertanyaan 8: Bagaimana Peran P2P Lending Dalam Eksosistem Keuangan? 

Sering dengar istilah P2P Lending dalam dunia fintech, sebenarnya pengertian istilah ini apa ya?

Terima Kasih

Ajeng Susanti

12/11/2018

Jawaban

Konsep dasar P2P lending sejatinya tidak terlalu berbeda dengan konsep utang yang telah ada berabad-abad yang lampau. Dengan bantuan teknologi, P2P lending telah menjelma dengan memberi akses kepada lebih banyak orang.

Apabila zaman dulu orang memberi pinjaman hanya kepada orang terdekat, circle P2P lending lebih luas karena melibatkan berbagai jenis orang yang bahkan tidak dikenal oleh kreditur. Program P2P lending merupakan bagian dari inklusi keuangan, yakni pemanfaatan teknologi untuk memaksimalkan layanan keuangan itu sendiri.

Namun lucunya, inklusi keuangan di Indonesia memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat dibanding literasinya. Padahal untuk mendapat hasil optimal dan meminimalisir potensi kerugian, seyogianya literasi keuangan dulu baru inklusi keuangan.

Untuk itu, di luar harus berkonsentrasi untuk perkembangan bisnisnya, fintech P2P lending juga berkewajiban mensosialisasikan kepada masyarakat sisi positif dan negatif yang pasti melekat pada setiap usaha sebagai bentuk literasi keuangan. Selain sisi edukasi, P2P lending memiliki tugas pula untuk menjamin bisnisnya jalan dan tidak merugikan baik investor maupun debitur.

P2P lending memiliki peranan sebagai middle man, perantara berbentuk institusi yang memiliki posisi vital dalam ekosistem keuangan.

Peranan pertama adalah sebagai screening bagi setiap klien yang mengajukan pinjaman. Berbeda dengan perbankan yang menggunakan riwayat kredit melalui BI checking, slip gaji, NPWP, dan lain sebagainya yang membutuhkan waktu verifikasi cukup lama, perusahaan P2P lending mampu memberikan approval lebih cepat. Banyak perusahaan fintech yang memilih metode “online reputation” dibanding cara yang biasa dilakukan perbankan.

Beberapa platform tersebut mengolah data dari media sosial seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn sehingga memunculkan penilaian individu sebagai dasar persetujuan. Misalnya jumlah yang banyak dan koneksi pertemanan dari LinkedIn yang bonafid meningkatkan potensi kredit diterima. Atau kalau seandainya teman Anda di Facebook banyak yang sering default, besar kemungkinan pengajuan kredit Anda ikut ditolak.

Peranan kedua dilihat dari sisi bisnis fintech. Untuk mendanai operasionalnya, P2P lending tentu membutuhkan keuntungan yang mencukupi. Keuntungan tersebut juga harus mampu memberi imbal hasil yang sesuai bagi para investor agar mereka mau menanamkan modal ke perusahaan fintech. Apabila imbal hasil yang ditawarkan lebih rendah daripada deposito atau surat berharga negara, tentu investor menjadi enggan karena risiko P2P lending lebih tinggi. Dengan profil risiko yang lebih tinggi, maka investor mengharapkan profit tinggi pula.

Namun perkaranya tidak semudah itu, karena fintech juga musti mempertimbangkan kemampuan dan kemauan debitur untuk meminjam dengan bunga yang ditawarkan. Selain nilai bunga, fintech juga harus mengkalkulasi jangka waktu jatuh tempo pinjaman.

Perlu diingat bahwa sebelum menentukan pilihan platform P2P yang digunakan, debitur akan memilih berdasarkan tiga hal utama yaitu kemudahan pencairan, besaran bunga, dan jangka waktu pinjaman.

Peranan ketiga yang perlu diperhatikan oleh ekosistem keuangan di seluruh dunia adalah persoalan gagal bayar. Tahun 2018 bisa dikatakan sebagai masa kelam bagi industri P2P di Tiongkok karena banyak perusahaan lending ditutup. Penyebabnya investor sudah tidak percaya lagi dengan kapabilitas perusahaan. Untuk menghindari hal itu, seyogianya perusahaan P2P lending di Indonesia mengambil langkah mitigasi dalam rangka menjamin keamanan dana investor.

Ada beberapa cara telah dipraktikan perusahaan fintech, misalnya dengan meminta jaminan dari orang yang mau meminjam uang. Dengan demikian apabila default, masih ada barang yang digunakan untuk menjamin dana investor. Tapi untuk urusan ini, saya merasa harus dinilai dengan fair, artinya investor mendapat pengembalian modal tanpa bunga apabila ada situasi gagal bayar, perusahaan fintech tidak menambahkan biaya, dan sisanya diserahkan kepada debitur.

Perusahaan fintech lain menggunakan pendekatan berbeda, yakni dengan memberi peringkat tipe-tipe proyek. Para investor diharapkan bisa memilih sendiri usaha mana yang akan dibiayai sesuai profil loss dan profitnya. Oleh sebab itu, mitigasi gagal bayar wajib dimiliki perusahaan fintech.

Terima kasih

Andika Diskartes, M.M

Konsultan Finansial dan Investasi

www.diskartes.com  

Theme by Anders Norén